Kurma: Kembalikan Kemendikbud dan Kemenag Pada Muhammadiyah dan NU

Related

Dugaan Penyelewengan Dana Bansos Oleh E-Warong

Pesawaran - Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan bantuan sosial...

Etika dan Budaya Politik Interpelasi, Menohok Muka Sendiri

Jakarta - Interpelasi mengenai Formula E yang sedang gencar-gencarnya...

PP HIMMAH Audiensi Dengan Kejagung, Bertekad Sinergi Tegakkan Hukum

Jakarta - Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH)...

Gerak Indonesia : BEM SI Ada Yang Menunggangi

Jakarta - Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI)...

Rakor Biro Organisasi Telah Resmi Dibuka, Ini Sambutan Gubernur Sultra

Kendari – Biro Organisasi Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara...

Share

Jakarta, opini – Kurma (Koordinator Untuk Relawan Makruf Amin) menyampaikan bahwa resuffle Kabinet yang isunya santer didengungkan pada bulan Desember ini atau awal tahun 2021 adalah momentum untuk menumbuhkan optimisme nasionalisme bergairah kembali.

“Sudah saatnya Muhammadiyah dan NU mengambil peran dalam reshuffle kabinet nanti,” kata Aris Munandar, sekjen relawan Kurma yang sekarang setelah pilpres pulang
kampung memilih jadi petani kembali.

Aris yang biasa dipanggil Mbah Roso menilai bahwa Muhammadiyah dan NU sebagai ormas Islam terbesar saat ini meskipun mendukung pemerintahan Jokowi Makruf tetapi oleh pemerintah sama sekali tidak ‘dijawil’ untuk menduduki di jajaran kabinetnya.


“Sudah saatnya Kemendikbud dan Kemenag kembalikan ke NU dan Muhammadiyah, kalau dua kementerian ini dikembalikan jatahnya ke NU dan Muhammadiyah, maka Optimisme dan rasa nasionalisme berkebangsaan akan bergairah kembali,” tandasnya.

Lalu siapa yang diajukan oleh Kurma untuk di dua kementerian itu?

“Muhadjir Effendi yang cocok di Kemendikbud, dia adalah spesialis reshufflle di kementerian itu. Sementara yang di Kemenag biar Kiai Said yang nanti akan menentukan. Betapa kedua ormas ini sebenarnya sangat kecewa dengan susunan kabinet kemarin. Maka, sebagai obat kecewa segera ganti Kemendikbud dan Kemenag.
Selain itu juga Kurma mengusulkan ada beberapa nama yang saat ini layak menduduki menteri. Yaitu; Sutrisno Bachir, Budi Suryanto dan Eva Juliana M.S.i,”

“Ketiga nama ini cocok dan pas untuk menggantikan menteri menteri yang saat ini rapuh, tidak ada aktifitas pergerakan pembangunan yang nyata. Apalagi Mensos juga sudah masuk bui. Siapa beliau, saya kira pak Jokowi paham dan ngertilah siapa siapa beliau itu,” ungkapnya.


Seperti, Sutrisno Bachir, beliau yang dalam 2 periode kepemimpinan Jokowi menjadi relawan dan mendukung Jokowi, pernah menjabat sebagai ketua KEIN (salah satu lembaga Negara yg kemarin dibubarkan Jokowi), Mantan ketua PAN, dan pengusaha sukses, yang secara materi tentu saja sudah cukup.

Bagaimana dengan Budi Suryanto? Beliau adalah pejabat tinggi di kementerian Agraria dan Tata Ruang Indonesia, dan jasa jasanya dalam menyelamatkan aset negara, terutama di wilayah luar Jawa sudah teruji lah. Saat ini sebagai wakil menteri Sofyan Djalil. Dan siapa dengan Eva Yuliana M.Si Dia adalah anggota DPR-RI komisi 3, dari Nasdem. Pernah menjadi wasekjen PKB, dan aktifis muslimat NU kota Semarang dan sangat aktif di pergerakan sosial. Ketiga orang ini sangat layak dan pantas menduduki jabatannya masing masing.

“Nama-nama ini setelah dipelajari oleh Kurma dinilai layak untuk dipertimbangkan sebagai pembantu Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin di Kabinet Indonesia Maju,” tulis Ketua Kurma, Gus Rosyiq bersama Sekjen Aris Munandar dalam keterangan tertulisnya, Jumat (18/12/2020).

Itulah beberapa nama yang diusulkan oleh Kurma, yang dalam pilpres kemarin berjibaku mengusung kepemimpinan Jokowi-Makruf, meskipun tokoh tokoh kurma sampai saat ini tidak ada yang mau gabung di sekretariat wapres atau menjabat di BUMN.


“Anggota kurma adalah para kiai dan santri yang tesebar di seluruh Indonesia, dan setelah nama Kiai jadi wapres, kami juga kembali ke barak, ngajar santri santri, meskipun sampeyan tau sendiri lah, betapa kecewa nya kami, terhadap kabinet kemarin,” tandas Aris Munandar.


“Saat ini yang dibutuhkan negara adalah menumbuhkan rasa Optimisme Nasionalisme untuk kedua ormas terbesar itu: yaitu Muhammadiyah dan NU, itu saja harapan saya,” tutupnya.