Penanggulangan TBC Tergeser Dengan Adanya Pandemi COVID-19

Related

Dugaan Penyelewengan Dana Bansos Oleh E-Warong

Pesawaran - Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan bantuan sosial...

Etika dan Budaya Politik Interpelasi, Menohok Muka Sendiri

Jakarta - Interpelasi mengenai Formula E yang sedang gencar-gencarnya...

PP HIMMAH Audiensi Dengan Kejagung, Bertekad Sinergi Tegakkan Hukum

Jakarta - Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH)...

Gerak Indonesia : BEM SI Ada Yang Menunggangi

Jakarta - Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI)...

Rakor Biro Organisasi Telah Resmi Dibuka, Ini Sambutan Gubernur Sultra

Kendari – Biro Organisasi Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara...

Share

Jakarta – Indonesia merupakan negara dengan penderita penyakit Tuberkulosis (TBC) tertinggi kedua di dunia setelah India, dan termasuk penyumbang 2/3 kasus TBC di seluruh dunia, dengan estimasi angka kasus 845.000 dan jumlah kematian 98.000.

Hal ini berdasar pada laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2020. Menurut WHO tahun 2020 angka penderita TBC secara global mencapai 10 juta orang sedangkan angka kematian mencapai 1.2 juta orang.

Di tengah pandemi COVID-19, penanggulangan penyakit tuberkulosis (TB) harus terus dilakukan, memasuki triwulan kedua tahun 2020, terjadi penurunan temuan kasus baru TBC. Penurunan 20-30% laporan kasus yang teridentifikasi sepanjang Maret – Juni 2020 di Indonesia.

WHO memperkirakan terdapat 845 ribu kasus tuberkulosis baru di Indonesia pada 2019 tetapi Indonesia baru mampu mengidentifikasi 600 ribuan kasus per tahun yang bisa diidentifikasi. Pandemi COVID-19 menambah berat negara Indonesia dalam menangani TBC (Kemenkes, 2020). ”Ini menjadi alarm Indonesia di 2021 untuk segera bisa kembali kepada jalur untuk kita segera menemukan jumlah kasus sesuai dengan estimasi tadi (Kemenkes, 2021). Pangkal masalahnya terletak pada alih fungsi alat tes cepat molekuler (TCM), dimana Mesin Tes Cepat Molekuler untuk TBC (TCM-TB) digunakan untuk pemeriksaan COVID-19. “Penggunaan alat yang digunakan secara bersama ini menyebabkan tertundanya sebagian daripada pemeriksaan tuberculosis (Kemenkes, 2021).

Selain itu di tengah Pandemi COVID-19 ada kebijakan untuk melakukan social distancing, physical distancing, dan juga stay at home dianjurkan oleh lembaga kesehatan dunia ataupun lokal. Penerapan pembatasan mobilitas berdampak pada menurunnya aktivitas investigasi kontak dan penemuan kasus TBC, termasuk pelaksanaan investigasi kontak dan pemantauan pengobatan pasien TB, terutama pasien TB Resistan Obat.

Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) yang diperingati setiap tahun pada tanggal 24 Maret, dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa TBC sampai saat ini masih menjadi epidemi di dunia.

Dimana Tema HTBS tahun 2021, yaitu “Setiap detik berharga, selamatkan bangsa dari tuberkulosis” dengan sub tema: “Jadikan penerus bangsa bebas TBC dan stunting dimulai dari diri sendiri dan keluarga” dan “Bersama eliminasi TBC dan lawan COVID-19, bangun bangsa sehat dan berprestasi”.

Tujuan peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2021 adalah menempatkan TBC sebagai isu utama semua sektor di setiap tingkatan, memperkuat komitmen dan kepemilikan semua pihak untuk berperan dalam upaya program pencegahan dan pengendalian TBC, meningkatkan sense of urgency Isu Tuberkulosis di Indonesia, baik dikalangan Pemerintah, masyarakat pada umumnya dan menunjukkan adanya leadership commitment dalam upaya eliminasi TBC di Indonesia.

Sebagaimana diketahui bersama, Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 67 tahun 2016 tentang Penanggulangan Tuberkulosis menyebutkan indikator utama program pengendalian TBC di Indonesia diantaranya adalah cakupan penemuan dan pengobatan semua kasus TBC (case detection rate/ CDR) dan angka keberhasilan pengobatan semua kasus TBC (treatment success rate/ TSR). Pandemi COVID-19 turut berdampak pada penanganan dan pengobatan kasus tuberculosis di Indonesia.

Direktur pencegahan dan pengendalian penyakit menular langsung (P2PML) mengungkap banyak hal yang mengganggu program penanganan TBC di Indonesia. Banyak pasien dan keluarga yang mengalami kendala dalam melakukan pengobatan dan mengambil obat kelayanan kesehatan karena adanya pembatasan diberbagai sector. Kegawatdaruratan pandemi Covid-19 juga menyebabkan rasa takut masyarakat memeriksakan gejalanya ke fasilitas layanan kesehatan, Serta dukungan sosial atau pendampingan pasien dalam menyelesaikan pengobatan secara langsung menjadi terkendala akibat penerapan kesehatan yang ketat guna memutus rantai penularan Covid-19.

Upaya kegiatan penemuan kasus TBC yang sudah dilakukan dalam penanggulangan TBC yaitu meningkatkan penggunaan alat tes cepat molekuler (TCM) sebagai pengganti pemeriksaan mikroskopis untuk menegakkan diagnosis TBC di fasyankes, meningkatkan skrining suspek TBC menggunakan mobile X-ray bekerja sama dengan kegiatan Zero TB, mengujicoba model investigasi kontak pasien TBC secara virtual (online), melakukan pendampingan kepada fasyankes dalam melakukan pencatatan dan pelaporan kasus TBC yang diobati ke dalam SITB online dan skrining pada balita dan anak melalui posyandu, PAUD, TPA.

Tantangan yang dihadapi dalam penanggulangn TB, adanya penutupan wilayah akibat COVID-19 yang berakibat pembatasan pada layanan diagnosis, pengobatan, dan pencegahan TBC. Jika memilih mengabaikan TBC, maka hasilnya adalah kemunduruan terhadap penanganan wabah tersebut. TBC merupakan penyakit pernapasan terabaikan yang masih membunuh 1,5 juta orang setiap tahunnya. Menurut Mariani R, sekretaris umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), kasus yang tidak teridentifikasi bisa menjadi celah penularan di masyarakat. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam memutus mata rantai penularan tuberkulosis. Sebab, teorinya satu orang terjangkit TBC bisa menularkan kepada 10-15 orang di sekitarnya.

Peluang yang dapat di lakukan dalam penanggulangan TBC dalam masa pandemi COVID-19 adalah melakukan testing, tracing, treatment dan memakai masker, melakukan pemantauan elektronik seperti memanfaatkan aplikasi WhatsApp, intervensi TBC dipusatkan pada layanan kesehatan primer, dengan dukungan tenaga kesehatan di Puskesmas, relawan serta kader kesehatan berbasis masyarakat dan pemanfaatan teknologi digital dan telemedicine dalam mendukung layanan kesehatan bagi masyarakat.

Rekomendasi penanggulangan TBC yang dapat dilakukan yaitu meningkatkan pengadaan alat tes cepat molekuler (TCM) untuk TB, memaksimalkan penggunaan teknologi digital dalam mendukung layanan TBC, media edukasi, dan membangun jejaring dalam upaya eliminasi tuberkulosis di Indonesia, yaitu SOBAT TB (solusi digital komunitas TBC dalam edukasi dan skrining mandiri) dan EMPATI Client (pendampingan pasien TBC resisten Obat dalam menyelesaikan pengobatan.