Poros Rawamangun : KPK Mesti Benahi Diri, Baru Periksa Orang Lain

Related

FUT Shoes Hadirkan Jawaban Keresahan Pemilik Telapak Kaki Lebar Yang Susah Untuk Cari Sepatu

Jakarta - Tak gampang memang untuk mencari produk sepatu yang aman dan nyaman serta cocok dengan karakter kaki kita yang unik sebagai...

Milenial Indonesia Gelar Webinar Nasional, Respon Kenaikan BBM dan Ancaman Inflasi

Jakarta - Milenial Indonesia Gelar Webinar Nasional Merespon isu...

Share

- Advertisement -

Jakarta – KPK Kali ini kembali menarik perhatian Publik. Pasalnya, ada dugaan bahwa salah satu anggota mereka memperkaya diri.

Dugaan tersebut mencuat ketika Wakil Ketua Komisi Pemberantasan KPK Nurul Ghufron melaporkan hartanya yang meroket fantastis ke LHKPN.

Diketahui, Nurul Ghufron per 2020 memiliki harta kekayaan senilai Rp13.489.250.570. Jumlah tersebut naik Rp12,7 miliar dari data tahun 2015. Itu angka yang cukup fantastis.

Berdasarkan data Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) yang diunggahnya, Ghufron diketahui pertama kali melapor harta ke KPK pada 2015 dengan kekayaan senilai Rp712.574.000. Saat itu ia masih berproesi sebaga Dekan Fakultas Hukum Universitas Jember, Jawa Timur.

Ghufron mengatakan, ia membeli aset-aset tersebut dengan harga yang cenderung murah. Setelah dibeli, aset tersebut ada yang ia jadikan usaha kos-kosan atau dijual kembali setelah direnovasi.

“Saya di Jember memiliki 3 lokasi kos yang kamarnya total sekitar 70 kamar,” jelasnya.

Menurutnya, pandemik COVID-19 juga berdampak bagi pemasukan usah kos-kosannya. Meski begitu, nilai aset yang dilaporkannya ke KPK tetap melambung.

“Dalam pelaporan LHKPN bukan sebagai harga pasar rumah, namun saya laporkan sebagai rumah kos yang nilainya bisa menjadi dua kali lipat dari harga belinya. Saya juga punya usaha kolam pancing luasnya lebih dari 1 hektare untuk usaha ini di masa COVID-19 masih bertahan sehingga kenaikan LHKPN tersebut lebih krn penyesuaian nilai harta dari masa perolehan dengan saat sekarang ketika saya laporkan dalam LHKPN,” ujar Ghufron

Rudy Darmawanto selaku Ketua Poros Rawamangun memberikan tanggapannya terkait ke-tidak masuk akalan kenaikan harta seorang Wakil Ketua Komisi KPK Tersebut.

Ia curiga karena bisa naik dengan drastis, sedangkan 2 tahun belakangan ini pandemi melanda seluruh dunia dan mengakibatkan ekonomi anjlok.

“Tetap mencurigakan, 70 kamar kos berarti 70 jt per-bulan, selama pandemi kosan sepi kenapa bisa naik drastis dari 700 juta menjadi 12 miliar?” ujar Rudy

Pasalnya Menurut Rudy, itu bukan Prilaku yang sepatutnya dilakukan oleh komisioner KPK. Dan harusnya Dewas KPK bertindak kepada yang bersangkutan terhadap nilai kekayaan yang melejit didalam kondisi pandemi. itu sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak etis

“Ya ga etis dong, lagi pandemi gini masa hartanya tiba-tiba meroket. Kan ada yang dipertanyakan kalo begitu”. Tambah Rudy

Rudy mengatakan untuk KPK segera membenahi internalnya yang menurutnya dipertanyakan oleh Publik. Sudah jelas-jelas ada ke-tidak wajaran dalam naiknya harta seorang Wakil Ketua Komisi KPK.

“Benahi diri dulu aja, baru periksa orang. cara muak Komisioner KPK”. Tutup Rudy

- Advertisement -