PP HIMMAH : Jelaskan Aturan Penggunan Pengeras Suara di Mesjid dan Musala,Menag Tidak Salah

Related

Ketua MPR RI Bamsoet Tantang Ducati Produksi Motor Listrik

Jakarta - Ketua MPR RI sekaligus Ketua Umum Ikatan...

M.Fajar Hasan: Tahun Politik 2023, Kita Berharap Iklim Investasi RI Stabil

Jakarta - Muhammad Fajar Hasan, pengusaha asal Sulawesi Tenggara...

1O1 URBAN Jakarta Kelapa Gading Gelar Nonton Bareng FIFA World Cup Qatar 2022 

Jakarta - Bagi pecinta sepak bola, Piala Dunia tentu sangat dinantikan. Rela bergadang demi menyaksikan timkesayangan yang bertanding di lapangan hijau. Nah, bagikalian pecinta sepak bola tak perlu khawatir. Sebab, 1O1 URBAN Jakarta Kelapa Gading telahmendaftarkan “Café Komunal” sebagai tempat nontonbareng FIFA...

Share

- Advertisement -

Jakarta – Pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas soal pengeras suara di masjid jangan di artikan macam-macam apalagi dipelintir sampai membandingkan suara adzan dengan suara hewan.

Hal ini disampaikan oleh Novrizal Taufan Nur wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Alwashliyah Rebuplik Indonesia di Jakarta 24 Februari 2022.

“Pernyataan Menteri agama jangan diartikan macam-macam apalagi dipelintir sampai membandingkan suara adzan dengan suara hewan,Soal Pengeras Suara di Beberapa Negera Muslim Juga ada Aturanya”kata Rizal

Novrizal menambahkan bahwa analogi Menteri Agama tentang pengeras suara itu jika diartikan positif maka semua pasti mengerti maksudnya pengeras suara itu jika diatur dengan baik tidak akan bising Dan Tidak Menggangu,lain hal jika di artikan ke hal-hal negatif,jadi maknanya juga pasti negatif,tuturnya

Sebelumnya Menteri Agama (Menag) RI, Yaqut Cholil Qoumas telah mengeluarkan surat edaran (SE) terkait penggunaan pengeras suara di masjid dan musala.

Aturan tersebut tertuang dalam SE Menteri Agama Nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.

Kemudian ketika disinggung mengenai terbitnya surat edaran tersebut, Yaqut menyebut suara anjing yang menggonggong di komplek pemukiman pun bisa mengganggu.

Hal itu diungkapkan Menteri Agama ketika berkunjung ke Pekanbaru, Riau.

“Misalnya kita hidup dalam satu komplek, kiri, kanan, depan, belakang, pelihara anjing semua, misalnya, menggonggong semua dalam waktu bersamaan, kita terganggu enggak?” ujarnya setelah menghadiri kegiatan temu ramah dengan para tokoh agama di Gedung Daerah, Jalan Diponegoro, Pekanbaru pada Rabu (23/2/2022).

Selain itu, ia juga mengatakan begitu juga dengan rumah ibadah di mana apabila pengeras suara rumah ibadah dibunyikan dengan suara volume yang keras dan dilakukan disaat bersamaan maka dikhawatirkan bisa mengganggu orang lain.

“Rumah ibadah itu kalau sehari lima kali membunyikan toa dengan suara kencang-kencang di saat bersamaan itu bagaimana,” tuturnya.

Sehingga, menurutnya, apapun suara yang didengarkan oleh orang, jika tidak diatur dengan baik maka suara tersebut bisa mengganggu orang termasuk suara-suara yang keluar dari pengeras suara atau toa di masjid-masjid dan musala.

“Apa pun suara itu, harus kita atur, supaya tidak menjadi gangguan, speaker di masjid, di musala, monggo dipakai, silakan dipakai, tapi diatur, agar tidak ada yang terganggu,” jelas Yaqut.

“Supaya niat menggunakan toa dan speaker sebagai sarana, sebagai wasilah untuk syiar tetap bisa laksanakan tanpa harus mengganggu mereka yang mungkin tidak sama keyakinannya dengan kita, jadi berbeda keyakinan itu harus saling menghargai,” imbuhnya.

- Advertisement -